Kamis, 17 Maret 2011

Hancock (Sinopsis)

Hancock -drama komedi Amerika superhero film diarahkan oleh Peter Berg dan bintangi Will Smith, Jason Bateman, dan Charlize Theron. John Hancock, yang dimainkan oleh Smith, dari Los Angeles adalah superhero yang sedikit berbeda dengan superhero lainnya. Ini adalah superhero yang tidak disukai oleh masyarakat karena sifatnya yang arogan dan emosional. Sampai ia menyelamatkan satu orang, Ray Embrey, yang dimainkan oleh Bateman, membuat misi untuk mengubah Hancock menjadi The Real Superhero.

Cerita pada awalnya ditulis oleh Vincent Ngo di tahun 1996. It languished neraka dalam pembangunan selama bertahun-tahun dan telah terpasang berbagai direksi, termasuk Tony Scott, Michael Mann, Jonathan Mostow, dan Gabriele Muccino sebelum masuk ke dalam produksi pada tahun 2007. Hancock adalah film di Los Angeles produksi dengan anggaran sebesar $ 150 juta.


Kamis, 03 Maret 2011

LATIHAN FISIK SEBELUM PENDAKIAN GUNUNG

LATIHAN FISIK SEBELUM PENDAKIAN GUNUNG


Dalam setiap pendakian ada beberapa pengetahuan yang harus dimiliki oleh pendaki seperti penggunaan kompas, teknik pendakian, perlengkapan, perbekalan. Namun kesemuanya itu tidak akan ada artinya jika ditunjang oleh kemampuan fisik yang baik. Pada prinsipnya untuk mendaki gunung dibutuhkan kekuatan dan daya tahan otot tertentu, serta memiliki kapasitas VO2 Max yang baik. Hal ini perlu sekali untuk mengatasi tipisnya oksigen di daerah ketinggian, serta mengatasi beratnya beban yang dibawa (ransel).

Bagi seorang pendaki gunung, memiliki VO2 Max yang baik adalah perlu sekali, diatas 5.000 feet, kemampuan seseorang untuk melakukan kegiatan atau pekerjaan mulai terganggu. Sedangkan setiap kenaikan 1.000 feet setelah 5.000 feet akan menyebabkan berkurangnya kapasitas VO2 Max sebanyak 3%. Dan hal ini perlu diperhatikan oleh pendaki gunung, karena semakin tipisnya oksigen di udara akan menyebabkan HIPOKSIA, sehingga pendaki akan terkena MOUNTAIN SICKNESS dengan salah satu ciri-cirinya adalah pusing-pusing dan muntah.

Senin, 28 Februari 2011

Puisi - puisi Soe Hok Gie

“akhirnya semua akan tiba
pada suatu hari yang biasa
pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui
apakah kau masih berbicara selembut dahulu?
memintaku minum susu dan tidur yang lelap?
sambil membenarkan letak leher kemejaku”

(kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih, lembah mendala wangi
kau dan aku tegak berdiri, melihat hutan-hutan yang menjadi suram
meresapi belaian angin yang menjadi dingin)

“apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
ketika ku dekap kau, dekaplah lebih mesra, lebih dekat”

(lampu-lampu berkelipan di jakarta yang sepi, kota kita berdua, yang tua dan terlena dalam mimpinya. kau dan aku berbicara. tanpa kata, tanpa suara ketika malam yang basah menyelimuti jakarta kita)

“apakah kau masih akan berkata, kudengar derap jantungmu. kita begitu berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta?”

(haripun menjadi malam, kulihat semuanya menjadi muram. wajah2 yang tidak kita kenal berbicara dalam bahasa yang tidak kita mengerti. seperti kabut pagi itu)

“manisku, aku akan jalan terus
membawa kenangan-kenangan dan harapan-harapan
bersama hidup yang begitu biru”
---------

Kata Kata Soe Hok Gie

1. Pertanyaan pertama yang harus kita jawab adalah: Who am I? Saya telah menjawab bahwa saya adalah seorang intelektual yang tidak mengejar kuasa tapi seorang yang ingin mencanangkan kebenaran. Dan saya bersedia menghadapi ketidak-populeran, karena ada suatu yang lebih besar: kebenaran.

Jumat, 25 Februari 2011

TANAMAN SURVIVAL


TANAMAN SURVIVAL

Setiap kegiatan di alam bebas selalu beresiko untuk mengalalmi keadaan darurat. Contohnya saja tersesat dan kehabisan bahan makanan. Hal ini menuntut kita untuk melakukan survival agar dapat bertahan hidup. Berdasarkan sumber dari The Nature Conservancy, hutan hanyalah mencakup sekitar 2% dari permukaan bumi. Namun, hutan merupakan tempat hidup untuk 50% dari semua tumbuhan dan hewan. Dalam 4mil2 (10km2) luas hutan tropis dapat berisi sebanyak 1500 tanaman berbunga dan 750 spesies pohon. Para ahli mengatakan,” jumlah tumbuhan berbunga di Indonesia ada 25.000 jenis. Itu merupakan 10% dari keseluruhan jenis tumbuhan berbunga yang ada di dunia.” Jika ditambah dengan tumbuhan yang tak berbunga dan jamur, maka jumlahnya berlipat-lipat. Dari keseluruhan jenis tumbuhan tersebut ada yang beracun dan tidak beracun. Oleh sebab itu pengetahuan tentang tumbuhan sangatlah penting untuk diketahui oleh para penggiat alam bebas agar tidak celaka hanya karena tidak mampu membedakan tumbuhan beracun dan tidak beracun.



A. MEMILIH 

Dalam memilih tumbuhan yang akan dimakan gunakan beberapa kunci penting di bawah ini:

· makan tumbuhan yang sudah dikenal

· pilih tumbuhan yang tidak hidup sendiri atau soliter

· jangan hanya memakan tumbuhan sejenis saja

· pilihlah tumbuhan yang juga dimakan oleh hewan

· cara memakan buah yang baru dikenal adalah dengan mengoleskan sedikit ke bibir, tunggu reaksinya. Apabila tidak bereaksi (terasa panas atau gatal) berarti aman untuk dikonsumsi.


· masaklah terlebih dahulu sebelum dimakan

· jangan makan tumbuhan berwarna ungu, karena dikhawatirkan mengandung racun alkaloidz



B. TUMBUHAN BERACUN

Tumbuhan beracun merupakan tumbuhan yang berbahaya karena memiliki kandungan zat yang berbahaya bagi tumbuh. Dampak yang ditimbulkan bila kita makan bias saja gatal pada kulit, diare, dan terparah berakhir pada kematian.

Ciri-ciri tumbuhan beracun :
· berbau tidak sedap dan bisa membuat pusing

· tumbuhan bergetah yang dapat membuat kulit gatal, bergetah pekat, berwarna mencolok, berbulu, permukaannya kasar, berwarna mengkilat, berduri, dan berdaun kasar atau liat

· tumbuhan dengan buah berwarna putih atau kuning

· buahnya terasa pahit dan berlendir



Tips Sebelum Berpetualang di Alam Bebas (Norman Edwin)

Siapa yang tak mengenal Norman Edwin? Tentu bagi penjelajah alam sangat mengenal tokoh tadi. Sekaligus banyak menjadi acuan bagi pendaki gunung Indonesia dewasa ini, baik dari sisi kemanusiaannya maupun dari ketokohannya sebagai wartawan di masa itu. Dialah penggagas Seven Summit pertama dan yang pertama juga meninggal di Aconcagua pada tahun 1992. Berikut ini adalah tips dari Norman Edwin Sang Legenda


Seorang pendaki gunung pada dasarnya menghadapi dua jenis rintangan ketika melakukan kegiatannya. Rintangan yang pertama sifatnya ekstern, artinya datang dari obyek yang sedang dihadapi. Obyek itu adalah gunung, dan rintangan yang dihadapi berupa cuaca atau medan berat. Bahaya yang ditimbulkannya disebut bahaya obyek (objective danger). Rintangan jenis kedua sifatnya intern, yaitu datang dari si pendaki gunung itu sendiri. Kalau si pendaki gunung itu tidak mempersiapkan diri dengan baik, maka rintangan itu datang dari dirinya sendiri. Bahaya timbul disebut bahaya subyek (subjective danger).



Di Indonesia, bahaya obyek bagi pendaki gunung secara umum tidak terlalu besar. Keterjalan gunung-gunungnya relatif tak seberapa, cuacanya pun hanya dipengaruhi oleh dua musim, musim kering dan musim hujan. Suhu udara tidak terlalu dingin, terutama dibandingkan dengan gunung-gunung di daerah subtropis. kalau akhir-akhir ini terlansir berita mengenai kecelakaan di gunung, maka kesalahan banyak dilakukan oleh si pendaki, dari banyak segi masih belum memadai. perlengkapan mendaki gunung adalah pokok pemikiran pertama bagi setiap pendaki gunung.



Gunung dengan segala aspeknya merupakan lingkungan yang asing bagi organ tubuh kita, lebih-lebih bagi mereka yang hidup di dataran rendah. Itulah sebabnya mengapa kita memerlukan perlengkapan untuk menyesuaikan diri dengan keadaan di gunung. Perlengkapan yang baik adalah salah satu usahauntuk mengurangi bahaya di gunung, baik obyek maupunsubyek.


Lebih Mengenal Norman Edwin

“Gua akan terus berjalan dan lo masih tertarik, lo pasti akan senang mendengar cerita-cerita gwa. Karena gwa sering cerita orang-orang akan merasa akrab dan bila tiba saatnya gwa mati gantian orang-orang yang akan cerita tentang gwa” (Norman Edwin)



Saya mendengar nama beliau, jauh sebelum membaca tulisan di atas tersebut. Saat orang-orang membicarakannya, si pendengar tentunya akan tertarik mendengar ceritanya dan  beberapa di antaranya sangat kagum dan ingin menjadi seperti dirinya. 

Norman Edwin (1955 - 1992) adalah pecinta alam legendaris. Penggiat kegiatan alam terbuka di Indonesia mengenang Norman Edwin sebagai salah satu pelopor ekspedisi besar ke beberapa gunung ternama dunia. Ia banyak menulis tentang kegiatan penjelajahan alam di sejumlah majalah dan surat kabar pada tahun 1980-an.

Ia wafat pertengahan April 1992 saat mendaki Gunung Aconcagua (6.959 meter di atas permukaan laut) di perbatasan Argentina - Cile bersama rekannya, Didiek Samsu Wahyu Triachdi. Pendakian tersebut adalah bagian dari seri pendakian oleh Mapala UI dalam ekspedisi Seven Summit atau pendakian tujuh puncak dunia (Aconcagua, Cartensz Pyramid di Papua [4.884 mdpl], McKinley di Alaska (Amerika Serikat) [6.194 mdpl], Kilimanjaro di Tanzania (Afrika) [5.894 mdpl], dan Elbrus di Rusia [5.633 mdpl]).


BIOGRAFI SI BERUANG GUNUNG
Ia diketemukan tewas tertelungkup di bawah timbunan salju—tangannya
Menggenggam erat kapak es dan seakan sedang menancapkan kapak es
itu guna menahan tubuhnya—ditutupi salju di ketinggian 6.700 meter, hanya sekitar 200 meter dari puncak Aconcagua!