Senin, 28 Februari 2011

Puisi - puisi Soe Hok Gie

“akhirnya semua akan tiba
pada suatu hari yang biasa
pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui
apakah kau masih berbicara selembut dahulu?
memintaku minum susu dan tidur yang lelap?
sambil membenarkan letak leher kemejaku”

(kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih, lembah mendala wangi
kau dan aku tegak berdiri, melihat hutan-hutan yang menjadi suram
meresapi belaian angin yang menjadi dingin)

“apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
ketika ku dekap kau, dekaplah lebih mesra, lebih dekat”

(lampu-lampu berkelipan di jakarta yang sepi, kota kita berdua, yang tua dan terlena dalam mimpinya. kau dan aku berbicara. tanpa kata, tanpa suara ketika malam yang basah menyelimuti jakarta kita)

“apakah kau masih akan berkata, kudengar derap jantungmu. kita begitu berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta?”

(haripun menjadi malam, kulihat semuanya menjadi muram. wajah2 yang tidak kita kenal berbicara dalam bahasa yang tidak kita mengerti. seperti kabut pagi itu)

“manisku, aku akan jalan terus
membawa kenangan-kenangan dan harapan-harapan
bersama hidup yang begitu biru”
-------------------------------------------------------------------------------
PANGRANGO

Senja ini, ketika matahari turun kedalam jurang2mu
aku datang kembali
kedalam ribaanmu, dalam sepimu dan dalam dinginmu

walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna
aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan
dan aku terima kau dalam keberadaanmu
seperti kau terima daku

aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi
sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada
hutanmu adalah misteri segala
cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta

malam itu ketika dingin dan kebisuan menyelimuti Mandalawangi Kau datang kembali
Dan bicara padaku tentang kehampaan semua

"hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya "tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa menawar
'terimalah dan hadapilah

dan antara ransel2 kosong dan api unggun yang membara
aku terima ini semua
melampaui batas2 hutanmu, melampaui batas2 jurangmu

aku cinta padamu Pangrango
karena aku cinta pada keberanian hidup
------------------------------------------------------------------------------------------------
Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke mekkah
Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di miraza
Tapi aku ingin habiskan waktuku di sisimu sayangku
Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu
Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah mendala wangi
Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di danang
Ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra
Tapi aku ingin mati di sisimu sayangku
Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya
Tentang tujuan hidup yang tak satu setanpun tahu
Mari, sini sayangku
Kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku
Tegakklah ke langit atau awan mendung
Kita tak pernah menanamkan apa-apa,
Kita takkan pernah kehilangan apa-apa
-------------------------------------------------------------------------------------------
"Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami.

Kami katakan bahwa kamiadalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan.

Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan.

Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya.



Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenalIndonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehatdari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat.

Karena itulah kami naik gunung."

(GIE,1969)



sehingga anda jangan bangga dengan pidato kemerdekaan anda

dalam upacara dan ritual tahunan "kosong"..

coba mulai gunakan akal sehat dan logika anda,

saya bukan yang lebih baik dari anda,anda lah yang terbaik di negri ini,anda lah orang NO : 1



tapi sungguh ironi jika anda tak bisa lebih baik dari sampah yang kami buang.

hahahaha,,,jika anda tak lebih baik dari sampah,maka saya hanya "setumpuk kotoran'

yang teriak tentang keadilan,yang bernyanyi tentang kemerdekaan.yang bermimpi

melihat senyum tulus indonesia ku di kibaran sang merah putihnya.

hey bung,,pancasila bukan sekedar hapalan 1+1=2,tanpa harus tau kenapa harus jadi 2.

itulah kebodohan massal yang anda lakukan,harus menghormati pancasila tanpa harus tau,,untuk apa

sebenarnya pancasila di rumuskan para pendahulu.

sadarlah kawan,ingat apa janji mu pada-NYA dulu.

didik konco-konco mu biar mereka mengerti,

kalian kami gaji bukan dengan uang recehan kan?

buka lah mata hati kalian,kita masih terjajah,belum merdeka,,

selama ini kita hanya bersandiwara bahagia dengan 17 agustus kita,agar kita mrasa lebih baik dari "tetangga".

penjajahan dan perampokan,pencurian,pembunuhan,pemusnahan etnis,perampasan hak ASASI.

sungguh terlalu tak berhati jika kalian tetap koar-koarkan kemerdekaan.



kepada kawan-kawan pengibar bendera,kenapa anda begitu bangga?

adakah yang kebih baik nasib kalian dari kami?

ataukah jiwa patriotisme kalian telah kalian lelang untuk masa depan semu?

ingat kawan-kawan,pendahulu kita dulu pernah tidak makan,menjadikan istri mreka janda,suami mreka duda.

anak mereka yatim.

berapa mahal memangnya harga yang (mereka) tawarkan?

MERAH PUTIH bukan sekedar di kibarkan lalu kita hormati,

itulah tulang dan darah kita,itulah semangat yang masih menyatukan kita,

itulah alasan kenapa kita masih bernaung dalam sebuah kata,"INDONESIA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar